Quiz 5 E-Commerce


  1. Sebutkan dan jelaskan 1 contoh kasus keamanan penjebola website! ( tuliskan nama websitenya, kapan terjadi , apa yang dihack atau diubah, dampaknya )
  2. Sebutkan dan jelaskan 1 studi kasus pada 4 kuadran matriks E-Business !

Jawab :


  1. Seiring dengan perkembangan teknologi Internet, menyebabkan munculnya kejahatan yang disebut dengan "CyberCrime" atau kejahatan melalui jaringan Internet. Munculnya beberapa kasus "CyberCrime" di Indonesia, seperti pencurian kartu kredit, hacking beberapa situs, menyadap transmisi data orang lain, misalnya email, dan memanipulasi data dengan cara menyiapkan perintah yang tidak dikehendaki ke dalam programmer komputer. Sehingga dalam kejahatan komputer dimungkinkan adanya delik formil dan delik materil. Delik formil adalah perbuatan seseorang yang memasuki komputer orang lain tanpa ijin, sedangkan delik materil adalah perbuatan yang menimbulkan akibat kerugian bagi orang lain. Adanya CyberCrime telah menjadi ancaman stabilitas, sehingga pemerintah sulit mengimbangi teknik kejahatan yang dilakukan dengan teknologi komputer, khususnya jaringan internet dan intranet.

    Contoh kasus penjembolan website :
Direktorat Siber Bareskrim Polri menangkap sindikat pembobol situs jual-beli tiket online PT Global Networking (tiket.com). PT Citilink menegaskan bukan situs mereka yang dibobol, melainkan situs partner.
"Kami klarifikasi bahwa seakan-akan pembobolan di situs Citilink. Kejadian sebenarnya di online travel agent kita yang dipakai buat beli tiket Citilink," demikian penjelasan Corporate Communication Citilink Ageng W Leksono kepada detikcom, Kamis (30/3/2017). Ageng menegaskan tidak ada pembobolan di situs Citilink. Semua transaksi yang dilakukan di situs Citilink, ditegaskannya, aman. 
"Jadi aktivitas pembobolan ini bukan dilakukan terhadap server maupun situs Citilink Indonesia, sehingga seluruh transaksi yang dilakukan di situs resmi Citilink aman," tegasnya.Menindaklanjuti investigasi yang dilakukan oleh Direktorat Siber Bareskrim Polri, Citilink telah bekerja sama secara kooperatif sebagai saksi dalam memberikan keterangan secara langsung pada akhir tahun 2016."Sepenuhnya kasus ini tidak terjadi di situs Citilink Indonesia dan kita menyerahkan sepenuhnya ke pihak kepolisian," ujarnya.Sehingga keseluruhan aktivitas akses ilegal pembelian tiket penerbangan tersebut tidak ada kaitannya dengan aktivitas transaksi di situs Citilink Indonesia. Pada 11 November 2016, Bareskrim Polri menerima laporan pengaduan dari PT Global Network (tiket.com) tentang kasus hacking/illegal access atas penggunaan aplikasi jual-beli tiket online milik PT Global Network (tiket.com) pada sistem aplikasi jual-beli tiket online PT Citilink Indonesia. Pelaku melakukan hacking/illegal access pada server PT Citilink Indonesia (www.citilink.co.id) dari akun milik PT Global Network (tiket.com) sejak tanggal 11 sampai dengan 27 Oktober 2016.Kasus illegal access ini membuat pihak tiket.com mengalami kerugian sebesar Rp 4.124.000.982. Dan setelah diketahui oleh pihak PT Global Network (tiket.com), tiket yang belum terbang dilakukan pembatalan dan dilakukan refund sehingga kerugian yang dialami PT Global Network (tiket.com) sebesar Rp 1.973.784.434 Ada empat tersangka yang ditangkap polisi dalam kasus pembobolan ini. SH alias Haikal (19) yang merupakan otak pembobolan, MKU (19) dan AI (19) serta NTM (27). Ketiga pelaku terakhir bertugas menjual tiket pesawat domestik hasil kejahatan melalui akun Facebook. Direktur Tindak Pidana Siber Bareskrim Polri Brigjen Fadil Imran menerangkan, tersangka SH meretas sistem pada aplikasi tiket.com untuk memesan sejumlah tiket. Setelah mendapatkan kode booking, dia bersama tiga pelaku lainnya menjual kembali tiket tersebut.

Sumber : https://news.detik.com/berita/d-3460864/kasus-pembobolan-situs-tiket-online-ini-penjelasan-citilink

       2. Studi kasus Turn- Around BUMN : PT Pos Indonesia pos-message

Salah satu BUMN yang berhasil melakukan transformasi adalah PT Pos Indonesia. Pos Indonesia berhasil melakukan turn-around dari perusahaan pos yang merugi dari tahun ke tahun menjadi network company yang terus menerus untung. Inilah yang membuat saya tertarik mengupasnya dalam sebuah buku berjudul “Marketing for Turnaround, Realizing the Network Company” yang diterbitkan Gramedia. Buku ini diluncurkan pada MarkPlus Conference 2013 pada 13 Desember 2012 di booth khusus Pos Indonesia. Peluncurannya istimewa karena dilakukan oleh I Ketut Mardjana selaku Direktur Utama dan Menteri BUMN Dahlan Iskan.

Buku ini boleh dibilang sebagai sekuel yang menjadi jawaban dari buku pertama yang juga saya tulis bersama Tim MarkPlus berjudul “Bridging to The Network Company: Transformasi Pos Indonesia Menjadi Perusahaan Kelas Dunia” (1999) yang diterbitkan juga oleh Gramedia.

Dalam buku saya yang pertama itu, tampak upaya transformasi Pos Indonesia sedang dibangun di bawah kepemimpinan Cahyana Ahmajayadi yang menjadi direktur utama saat itu. Cahyana saat itu gelisah memikirkan masa depan Pos Indonesia di tengah perubahan zaman yang serba cepat. Khususnya di tengah tren teknologi informasi dan komunikasi yang melahirkan produk-produk substitusi yang mengancam keberadaan produk-produk dan layanan Pos. Lalu, saya ingat betul suatu sore di pengujung Januari 1998, Cahyana menelepon saya. Beliau meminta saya membantunya menyusun dan merumuskan strategi Pos Indonesia. Akhirnya, setelah berdiskusi panjang lebar sekitar sebulan, terumuskanlah strategi baru yang dikenal dengan Marketing Pos 2000.

Namun, tidak gampang mengeksekusi program tranformasi itu. Mimpi-mimpi perubahan Cahyana kurang terealisasi karena waktu yang kurang bersahabat. Saat itu, Krisis Asia terjadi dan berdampak pada perekonomian Indonesia. Sementara, situasi politik kurang stabil karena bergantinya pemerintahan.

Waktu berlanjut, perusahaan pelat merah besar ini mulai tampak sempoyongan. Pos Indonesia masih beroperasi karena mendapat subsidi dari pemerintah. Tapi, saat pemasukan berkurang, Pos Indonesia masih harus menggaji ribuan karyawan sekaligus menanggung beban puluhan ribu pensiunan. Belum lagi dengan biaya lainnya. Akibatnya, Pos Indonesia mengalami kerugian dari tahun ke tahun.

Seperti yang ada dalam buku, pada periode 2004-2008, misalnya, Pos Indonesia merugi hingga Rp 606,5 miliar. Termasuk ketika Pak Ketut masuk  Pos Indonesia pada tahun 2008, Pos Indonesia sedang merugi Rp 71 miliar.  Baru setelah Ketut  Mardjana menjadi Direktur Utama dan melakukan Program Transformasi, Pos berubah. Di tangan Pak Ketut inilah, mimpi-mimpi Cahyana saat itu terealisasi. Bahkan, berhasil mengubah Pos Indonesia dari postal company menjadi the real network company seperti sekarang ini. Boleh dibilang Pak Ketut berhasil menyelamatkan Pos Indonesia dari ambang “kehancuran.” Bahkan, hanya dalam hitungan setahun, Pak Ketut berhasil membawa Pos Indonesia menjadi perusahaan yang untung Rp 98 miliar pada tahun 2009—padahal tahun 2008 merugi hingga Rp 71 miliar.  Luar biasa!

Saya mendengar sendiri cerita-cerita bagaimana Pak Ketut melakukan transformasi di Pos Indonesia. Ini sangat inspiratif. Sebab itu, saya pernah mengusulkan kepada Pak Ketut agar mau menceritakan implementasi “Revitalization and Turnaround Strategy” PT Pos Indonesia dalam BUMN Marketeers Club. Akhirnya, Pak Ketut bersedia bercerita dalam acara tersebut yang digelar di Kantor Pos Indonesia.  Paparan Pak Ketut ternyata cukup selaras dengan konten buku “Bridging the Network Company” yang uniknya Pak Ketut mengaku justru belum membaca buku itu. Karena apa yang dilakukan Pak Ketut merupakan  perwujudan network company seperti dimimpikan di buku pertama itu, saya ingin mengkajinya dalam buku yang kedua. Tak salah kalau saya beri judul buku kedua “Marketing for Turnaround, Realizing the Network Company.”

SUMBER : http://marketeers.com/studi-kasus-turn-around-bumn-pt-pos-indonesia/

Comments